Pesantren Ramadhan

Pesantren Ramadhan yang rutin diadakan untuk membentuk karakter relejius para peserta didik di SMANTEB More »

Pelatihan Jurnalis Sekolah

Jurnalis Sekolah untuk mendidik peserta didik dalam dunia jurnalisme dalam lingkungan sekolah More »

Atraksi Silat

Atraksi silat dari kelas X More »

Workshop

Workshop guru smanteb More »

 

Dua Calon Ketua Osis SMANTEB

 

SMANTEB.ID – OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) adalah wadah organisasi formal yang ada di setiap sekolah baik SMP maupun SMA. Adapun OSIS dikelola dan dikembangkan oleh Siswa terpilih yang diawasi oleh MPK (Musyawarah Perwakilan Kelas) dibawah binaan Pembina Osis dan Kesiswaan.

Biasanya organisasi ini memiliki seorang ketua dan wakil ketua, Sekretaris, Bendahara dan para koor masing-masing Sekbid beserta anggotanya dari siswa terpilih serta Pembina OSIS dari guru yang dipilih oleh pihak sekolah yang berada dibawah Kesiswaan. Anggota OSIS adalah seluruh siswa/i yang berada pada satu sekolah tempat OSIS itu berada.

Pembinaan dan pengembangan generasi muda yang berada di sekolah diarahkan untuk mempersiapkan siswa sebagai kader muda dengan memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, daya kreasi, patriotisme, idealisme, kepribadian dan budi pekerti luhur. Oleh karena itu, wadah pembinaan tersebut di lingkungan sekolah yang diterapkan melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Keberlangsungan OSIS masa bakti 2021-2022, dimulai dengan pemilihan ketua dan wakil ketuanya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Pasangan calon (paslon) ketua (ketos) dan wakil ketua (waketos) dan saat ini ada 2 paslon (Pasangan Calon) untuk pimpinan baru SMAN 1 Tebing-Tinggi yaitu Nazaruddin dan Munika.

Dalam masa Pandemi Covid-19 saat ini, teknik pemilihan Ketua dan Wakil ini dilakukan dengan pengambilan suara secara secara protokol kesehatan, seperti pemilu yang lalu.

Suara/ pemilih adalah semua warga sekolah baik siswa siswi dan para pendidik/ guru mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya. Pengambilan suara akan dilaksanakan bisa menggunakan smartphone, laptop atau PC dan bisa diakses melalui e-learning.

Kegiatan ini sebagai pembelajaran pendidikan demokrasi melalui pengalaman praktis dalam Pemilu OSIS. Kami semua berharap saat pelaksanaan Pemilu nanti agar bisa berjalan dengan lancar, jujur dan sukses dengan koneksi yang lancar tanpa kendala dan dukungan dari semua pihak dan seluruh warga sekolah.

Cerita G30SPKI

SMANTEB.ID – Hari ini 56 tahun yang lalu, Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI) yang memakan sejumlah korban Jenderal TNI AD terjadi pada tahun 1965.

Mereka yang menjadi korban dalam peristiwa memilukan ini adalah Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Walikota Jenderal Raden Soeprapto, Walikota Jenderal Mas Tistodarmo Haryono, Walikota Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, Lettu Pierre Andreas Tendean.

PKI beralasan, para jenderal itu akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno melalui Dewan Jenderal.,

Kronologi peristiwa G30S/PKI

Batalyon I Resimen Tjakrabirawa Letkol (Inf) Untung Samsoeri menuju Lubang Buaya untuk inspeksi pada 1 Oktober 1965. Dini hari itu, Komandan memimpin upaya kudeta yang akan mengubah garis sejarah.

Kudeta yang awalnya diberi nama Operasi Takari itu diubah saat akhir menjadi Gerakan 30 September agar tidak berbau militer.

Kata Untung, Ketua Komite Pusat Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit memerintahkan agar pelaksanaannya ditunda menjadi 1 Oktober sampai pasukan siap dan lengkap.

Menjelang pelaksanaan, nama Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta dicoret dari sasaran. Tujuannya, untuk mewujudkan kudeta sebagai konflik internal.

Untung membagi eksekutor ke dalam tiga satuan tugas.

Satgas Pasopati pimpinan Letnan I (Inf) Abdul Arief dari Resimen Tjakrabirawa menyimpan tujuh jenderal yang jadi sasaran.

Satgas Bimasakti dipimpin Kapten (Inf) Soeradi Prawirohardjo dari Batalyon 530/Brawijaya, simpan ibu kota dan menguasai kantor Pusat Telekomunikasi dan Studio RRI Pusat.

Penculikan berubah jadi serangan berdarah

Terakhir, satgas Pringgodani di bawah kendali Mayor (Udara) Soejono, bertugas menjaga basis dan wilayah di sekeliling Lubang Buaya, yang rencananya akan jadi lokasi penyanderaan para jenderal.

Usai memeriksa kesiapan di Lubang Buaya, Untung bersama bawahannya Kolonel (Inf) Latief, bergerak ke Gedung Biro Perusahaan Negara Aerial Survey (Penas) di Jalan Jakarta By Pass (kini Jalan Jend. A Yani), Jakarta Timur.

Sehari-hari, gedung itu disewa Angkatan Udara (AURI). Namun di malam senyap itu, Soejono menyiapkan Gedung Penas sebagai Central Komando (Cenko) I untuk memantau jalannya operasi penangkapan para jenderal.

Julius Pour mencatat, operasi penculikan di bawah Untung direncanakan secara serampangan. Banyak yang akan dilibatkan, tak jadi datang.

Jumlah pasukan kurang dari 100 personel, jauh dari yang diharapkan mampu memantik revolusi. Selanjutnya, apa yang dikhawatirkan Untung pun terjadi. Penculikan berubah jadi serangan berdarah.

Pukul 03.30, anggota Batalyon I Resimen Tjakrabirawa Sersan Kepala Bungkus mengingat pasukannya yang terakhir diberangkatkan dari Lubang Buaya.

Ia khawatir, alokasi 15 sampai 20 menit untuk meluncurkan penculikan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal (Letjen) Ahmad Yani, tak akan cukup.

“Saya sendiri berpikir kok hanya 20 menit, peluangnya pasti singkat sekali? Meski begitu saya tidak lupa. Perintahnya jelas, saya mendengar langsung dari Letnan I Abdul Arief, ‘…tangkap sasaran, hidup atau mati’,” kata Bungkus.

Cerita Nasution selamat dari penculikan PKI

Sesampai di kediaman Yani di Jalan Lembang, Menteng, Jakata Pusat, Bungkus dan rekan-rekannya segera meminta Yani ikut dengan alasan akan dibawa ke hadapan presiden.

Yani pun meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Bungkus dan rekan-rekannya menolak permintaan itu dan marah.

Yani menampar salah satu prajurit dan mencoba menutup pintu rumahnya. Salah satu prajurit melepaskan tembakan, dan mengenai Yani hingga membunuhnya.

Masih di kawasan Menteng, tepatnya di Jalan Teuku Umar, Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution tak bisa tidur nyenyak.

Menjelang pukul 04.00, mereka terbangun oleh suara kendaraan dan bunyi tembakan. Pintu rumah dibuka paksa. Johana (istri AH Nasution) segera mengecek apa yang gerangan terjadi. Tak lama, Johana kembali ke kamar dan mengunci pintu sambil berbisik, “…ada Tjakrabirawa, kamu jangan keluar.”

Ade Irma yang terbangun memeluk kaki ibunya. Nasution tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia pun membuka pintu untuk memastikan kendati sudah ditahan istrinya.

“Saya tetap membuka pintu kamar tidur. Di depan pintu, dalam jarak satu setengah meter, tampak seorang prajurit Tjakrabirawa yang langsung melepaskan tembakan. Otomatis pintu saya tutup dan segera tiarap,” kata Nasution.

Mendengar kegaduhan, adik Nasution, Mardiah, terbangun. Ia berusaha menyelamatkan Ade Irma dengan menggendongnya ke kamar lain.

Namun karena gugup, Mardiah salah membuka pintu. Mardiah yang menggendong Ade Irma disambut rentetan tembakan.

Nahas, peluru yang ditembak mengenai punggung Ade Irma Suryani. Pintu pun langsung ditutup Johana dan menggendong tubuh Ade Irma Suryani yang bersimpah darah.

Setelah hari menjelang pagi, Ade Irma dibawa ke RSPAD untuk mendapatkan pertolongan. Ade Irma sempat menjalani operasi beberapa kali.

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Ade Irma Suryani meninggal dunia.

Sementara itu, Nasution sendiri berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat tembok belakang.

Pendudukan RRI

Memasuki fajar, seluruh pasukan G30S kembali ke Lubang Buaya.

Wakil Komandan Satgas Pringgodani Mayor (Udara) Gatot Soekrisno kebingungan ketika para prajurit menurunkan empat orang yang terikat dan ditutup matanya, serta tiga mayat.

Padahal, mereka sedianya akan dihadapkan kepada Soekarno.

“Saya segera menghubungi Mayor (Udara) Soejono, Komandan Satgas Pringgidani di Cenko I, minta petunjuk, bagaimana menangani kondisi baru yang menyimpang dari skenario awal tersebut,” kata Gatot.

Rentetan peristiwa itu kemudian berlanjut dengan pendudukan kantor berita Radio Republik Indonesia (RRI) oleh Gerakan 30 September.

6 Oktober 1965 mencatat, orang-orang yang terlibat dalam gerakan itu mengenakan baret dan sapu tangan hijau di sekeliling leher.

Mereka kemudian melakukan siaran gelap dan menyatakan membentuk Dewan Revolusi Indonesia. Kabinet Dwikora yang dibentuk Bung Karno juga dinyatakan demisioner oleh mereka.

Mereka juga mengumumkan penangkapan sekelompok orang yang disebut Dewan Jenderal. Mereka berdalih, langkah itu dilakukan untuk menyelamatkan Republik Indonesia dari apa yang mereka sebut Dewan Jenderal.

Dewan Jenderal, menurut mereka, merupakan gerakan subversif dan disponsori oleh CIA dan bermaksud menggulingkan pemerintahan Soekarno.

Namun, pendudukan RRI itu hanya bertahan kurang dari sehari, karena sekitar jam 7 sore pasukan RPKAD mengambil alih RRI. Beberapa tertangkap namun ada juga yang kabur.

Lalu pada 1 Oktober 2021 pukul 21.00, RRI Jakarta sudah mulai mengumandangkan lagi suara resmi pemerintahan RI. Sepenuhnya ibu kota di tangan ABRI dan orang-orang dalam kelompok G30S menjadi buronan.

Kembali Test Kehamilan Dilaksanakan

Ilustrasi foto tes urine

Kembali Test Kehamilan Dilaksanakan, ini memang telah menjadi kegiatan rutinan yang dilakukan untuk para siswa.

Yang mana dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam kegiatan ini beberapa petugas dari puskesmas Tebing Tinggi diterjunkan. Dan puluhan siswi SMAN 1 Tebing-Tinggi diikut sertakan.

 

Dari Hasil tes tersebut, tidak ada hasil yang tidak diinginkan. Guru pendamping dalam kegiatan ini adalah guru BK SMAN 1Tebing Tinggi Mahrita, S.Pd,.

Vaksinasi Tahap Satu Siswa

Puluhan Siswa SMAN 1 Tebing-Tinggi, ikuti kegiatan vaksinasi oleh puskesmas Tebing Tinggi, yang dilaksanakan disalah satu ruangan di sekolah tersebut.

SMAN 1 Tebing-Tinggi Ikuti ANBK

SMANTEB.ID – ANBK merupakan singkatan dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer. Lalu apa tujuan Asesmen Nasional diadakan? Siapa sasarannya?

Melansir laman kemdikbud, pengertian Asesmen Nasional adalah program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan atau Kebudayaan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan.

Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

Asesmen Nasional ini nantinya dilaksanakan dalam tiga instrumen utama yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM Literasi, Numerasi), survei karakter dan survei lingkungan belajar.

Adapun tujuan dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yakni mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) murid.

AKM untuk mengukur literasi membaca dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia, serta untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Sedangkan AKM untuk mengukur numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

Survei karakter adalah salah satu dari instrumen Asesmen Nasional untuk mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid.

Survei Lingkungan Belajar

Survei lingkungan belajar juga menjadi instrumen penting dalam Asesmen Nasional. Yang digunakan untuk mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat satuan pendidikan.

Bentuk soal Asesmen Nasional terbagi menjadi lima, yaitu berupa pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat dan uraian.

Sementara itu, untuk pelaksanaan ANBK 2021 dijadwalkan terselenggara pada September-Oktober 2021.

Nantinya pada ANBK 2021, responden murid akan dipilih secara acak dengan jumlah maksimal 30 orang murid SD/MI, 45 murid SMP/MTs, serta 45 murid SMA/SMK/MA di satuan pendidikan.

Sementara responden satuan pendidikan kesetaraan ialah semua warga belajar yang terdaftar sebagai peserta ujian kesetaraan Paket A/Ula-Kelas 6, Paket B/Wustha-Kelas 9 serta Paket/Ulya-Kelas 12.

Dikatakan oleh Normala salah seorang siswi SMAN 1 Tebing Tinggi dirinya sempat mengikuti ANBK, soal yang iya dapat cukup sulit menurutnya. “Dikasih waktu sekitar satu jam untuk mengerjakannya soalanya, cukup sulit mengejerjannya soal yang sekitar 60 an itu,” sebut Normala.

Adapun pelaksanaan ANBK di sekolah ini dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan, dimana pelaksanaannya terhitung menjadi tiga sesi dua gelombang. Gelombang pertama diikuti sebanyak 30 siswa dengan dua sesi dan gelombang kedua diikuti sebanyak 15 siswa dengan satu sesi.