Category Archives: TEACHING AND LEARNING

SMAN 1 Tebing-Tinggi Sempat Bentuk Tim Satgas Covid-19

Ilustrasi BBC Indonesia

SMANTEB.ID – SMA 1 Tebing-Tinggi bentuk tim Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, internal sekolah, guna mempersiapkan pembelajaran tatap muka.

Sebelumnya memang beberapa waktu lalu, memang telah diumumkan bahwa pembelajaran tatap muka akan dilakukan di tahun 2021. Namun harapan belajar tatap muka tersebut seakan hilang, ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI), mengumumkan pembelajaran tatap muka di tahun 2021 ini tidak jadi direalisasikan.

Di ungkapkan oleh Eko Prayitno, selaku kepala sekolah SMAN 1 Tebing-Tinggi, bahwa sebelumnya pihaknya telah menyiapkan tim khusus untuk memperketat penerapan protokol kesehatan (Prokes) dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang akan dicanangkan.

Kepala Sekolah SMAN 1 Tebing-Tinggi
Eko Prayitno

“Sebelumnya untuk persiapan sekolah tatap muka, kami telah membentuk Satgas Covid-19 di tingkat sekolah,” kata Eko Prayitno kepada jurnalis Smanteb.id Rabu (13/01/20).

Dilanjutkan dia, untuk tugas-tugas Satgas Covid-19 SMANTEB ini sendiri, siapkan fasilitas-fasilitas penerapan protokol kesehatan, seperti 3M.

“Seperti persiapkan tempat, cuci tangan, hand sanitizer, kemudian siap pula untuk melakukan pengecekan suhu tubuh, memeriksa kedisiplinan pakai masker dan sebagainya,” ujar kepala SMAN 1 Tebing-Tinggi tersebut.

Untuk tim Satgas Covid-19 SMANTEB ini, di bidani oleh para guru-guru SMAN 1 Tebing-Tinggi yang tentunya sudah dicek kesehatannya.

Ia juga menyebutkan, selain itu tim, pihaknya juga telah menyiapkan ruangan pembelajaran, seperti di dalam kelas hanya 18 orang, dan persiapan lainnya untuk menunjang pembelajaran tatap muka tersebut.

Begini Cerita Guru Tervaforit SMAN 1 Tebing-Tinggi

Piala Guru Terfavorit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SMANTEB.ID – Menjadi guru bukanlah merupakan tugas yang mudah. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk bisa mengajarkan ilmu, tetapi juga harus menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya, terlebih jika bisa menjadi guru favorit yang disukai para siswa.

Siswa yang telah menjadikan salah satu gurunya sebagai favorit akan lebih mudah menerima pelajaran yang diajarkan. Lain halnya jika siswa tidak menyukai gurunya, maka pelajaran yang Bapak/Ibu ajarkan seolah begitu sulit mereka terima, bahkan malas-malasan dalam belajar. Jadi, menjadi guru favorit adalah hal yang cukup penting, lho.

Sayangnya, tidak semua guru tahu bagaimana bisa menjadi guru favorit. Beginilah yang dirasakan oleh Abdullah salah seorang guru SMAN 1 Tebing-Tinggi, yang terpilih menjadi siswa-siswinya ketika terpilih sebagai guru terfavorit di SMAN 1 Tebing-Tinggi.

Abdullah Guru Bahasa Inggris

“Alhamdulillah, saya senang, dan sebenarnya saya merasa tidak pantas untuk mendapatkannya, ketika itu, saya gugup, dan tangan saya gemetaran, kayak dapat penghargaan yang luar biasa,” ungkap guru Bahasa Inggris SMAN 1 Tebing-Tinggi tersebut, kepada smanteb.id Selasa (05/01/20).

Terlebih saat ini, hari perayaan ulang tahun SMAN 1 Tebing-Tinggi, setelah itu saya di suapin kue ulang tahun, oleh Kepala Sekolah (Eko Prayitno) saya sungguh senang sekali hari itu.

“Bercampur rasa tidak percaya diri,”ujar Abdullah.

Menurutnya, selama aktivitas mengajar, ia tidak pernah melakukan apa-apa, ia hanya beraktivitas seperti orang lain mengajar pada umumnya.

Iya juga mengapresiasi kepada pihak penyelenggara yaitu OSIS yang telah rela menghabiskan waktunya, guna terlaksananya acara indah itu.

“Mantap benget para OSIS, membuat acara ini. Saya sangat mengapresiasi sekali kepada mereka,” ungkap Pemenang guru terfavorit 2019/2020 itu.

 

Muhammad Fikri Alumni dan Anggota Osis (pada
masnaya )SMANN 1 Tebingtinggi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dilain tempat, diceritakan pula oleh Muhammad Fikri salah satu anggota OSIS kala itu, bahwa mereka melakukan penilaian itu melibatkan semua siswa-siswi SMAN 1 Tebing-Tinggi.

“Kami melakukan penilaian kala itu, dengan mendatangi kelas-kelas dan memberikan mereka pilihan, guru mana yang mereka yang paling terfavorit,” ujarnya.

Dalam hal ini, lanjutnya, bukan berarti guru-guru yang lain, tidak disukai oleh para siswa-siswi, tetapi ini hanyalah, ajang penghargaan bagi mereka yang menang.

“Sehingga pada akhirnya, ditemukan lah Bapak Abdullah lah sebagai pemenang, dari hasil semua kelas yang kita mintai suara pilihannya,” ungkapkan dia.

Dia juga menyebutkan bahwa, ada beberapa kriteria yang diberlakukan, dalam penilaian itu, namun sayangnya ia tidak terlalu ingat apa saja kriteria yang diberlakukan oleh tim OSIS kala itu.

Gara-Gara Covid-19, SMANTEB Tidak Pokos Lakukan Persiapan Penilaian Adiwiyata Nasional

Taman

SMANTEB.ID – Menjadi Sekolah Adiwiyata adalah harapan setiap sekolah di tanah air. Namun komponen dan standar sebagai Sekolah Adiwiyata kadang-kadang masih belum maksimal dimiliki setiap sekolah. Oleh karena itu perlu jauh hari sebelum sampai pada produksi.

Kata ADIWIYATA berasal dari dua Kata “ADI” dan “WIYATA”. Adi memiliki makna, besar, agung, baik, ideal dan sempurna. Wiyata memiliki makna, tempat dimana seorang mendapat ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial.

Jika secara total Adiwiyata mempunyai pengertian atau makna, tempat yang baik dan ideal yang dapat diperoleh secara ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita menuju keada cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Program Adiwiyata adalah: salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapakan setiap warga sekolah ikut serta dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta dampak lingkungan yang negatif.

Tujuan Program Adiwiyata adalah, menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya penyelamatan lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia.

Program Adiwiyata harus berdasarkan norma-norma Kebersamaan, Keterbukaan, Kejujuran, Keadilan, dan Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.

Adapun prinsi Program Adiwiyata, yaitu Partisipataif, di mana komunitas sekolah yang terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab. Berkelanjutan, seluruh kegiatan harus terus menerus dan terus menerus terus menerus.

Keuntungan yang di peroleh sekolah mengikuti program Adiwiyata, pertama meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dan menggunakan berbagai sumber daya. Meningkatkan sumber daya dan energi

Meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif bagi semua warga sekolah. Menciptakan kondisi kebersamaan bagi semua warga sekolah. Meningkatkan upaya menghindari berbagai dampak dampak lingkungan negatif dimasa yang akan datang, dan lain-lain.

Untuk menjadikan sekolah yang Peduli dan berbudaya Lingkungan yang diperlukan beberapa kebijakan sekolah yang mendukung kegiatan pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsip dasar program Adiwiyata yaitu partisipatif dan berkelanjutan. Pengembangan kebijakan sekolah yang diperlukan untuk meujutkan Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan tersebut adalah.

Dalam hal ini untuk menuju Adiwiyata tingkat Nasional, SMAN 1 Tebing-Tinggi yang berada di Kecamatan Tebing-Tinggi, Kabupaten Balangan, masih bungung dalam mengambil langkah pandemi Covid-19 yang masih mendera Kabupaten Balangan.

Eko prsyitno Kepala SMAN 1 Tebing-Tinggi

“Sebetulnya pesanan Adiwiyata sekali tapi ini belum bisa mengambil keputusan, masih dalam masa pandemi Covid-19, belum ada persiapan persiapan infrastruktur aja dulu,” ucap Kepala SMAN 1 Tebing-Tinggi, Eko Prayitno, Senin (04/01/20) .

Selamat Hari Guru Nasional Di Hari Masa Covid-19

Para Guru SMAN 1 Tebing-Tinggi

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Membahas pokok permasalahan mengenai virus Corona yang sedang mengancam negara Indonesia. Membuat dunia menjadi tidak baik baik saja. Menjadikan beberapa aktivitas bahkan kegiatan lembaga pendidikan harus terhentikan. Banyak keluh kesah yang dirasakan oleh sebagian masyarakat akibat dari virus tersebut, banyak yang mengeluh karena pekerjaan, uang, ketidakbebasan dan lain sebagainya. Bagaimana tidak? Dengan terjadinya virus Corona ini sebagian orang harus patuh dan mengikuti apa yang pemerintah perintahkan, seperti halnya program dirumah saja.

 

Bukan hanya itu saja anak-anak didik yang seharusnya belajar di sekolah seperti biasanya. Harus terhentikan terlebih dahulu demi mengurangi tersebarnya virus Corona tersebut dan ditakutkan malah akan menambah korban, terutama pada anak kecil atau anak-anak sekolah yang terkadang ceroboh dan enggan menjaga kebersihan serta kesehatan dirinya.

 

Belajar di teras Smanteb

Akibat dari program pembelajaran dirumah saja, membuat siswa terkadang kurang memahami materi yang ada. Bagaimana bisa? Ya, tentu saja bisa. Karena pembelajaran berbasis online yang mengakibatkan pembelajaran tidak efektif. Jika di dalam sekolah yang berkomunikasi langsung dengan guru terkadang ada siswa yang sulit untuk memahami suatu pembelajaran. Apalagi dengan pembelajaran secara online, yang hanya dipantau melalui jarak jauh.

Untuk mengatasi kasus tersebut, dimana seorang guru yang takut akan ketidakpahaman siswa dalam mempelajari suatu materi. Akhirnya beberapa guru memilih untuk mendatangi rumah siswanya satu persatu. Dalam hal ini semua guru yang mengajar pada sekolah tersebut mencoba untuk membagi tugas antara guru yang satu dengan guru yang lain. Seperti : guru A mengajar 10 anak di masing-masing rumah mereka dan lain sebagainya.

 

Dengan tindakan ini seorang guru tersebut tidak merasa lelah atau terbebani, karena yang mereka inginkan adalah kepuasan peserta didiknya dalam mempelajari suatu pembelajaran. Jadi, bukan hanya pemberian tugas tanpa penjelasan materi. Seorang guru hanya ingin siswa siswanya mendapat pendidikan yang layak. Dimana mereka masih bisa berkontak langsung dengan guru-guru mereka dan merasakan pembelajaran seperti mana biasanya yang dilaksanakan di sekolah.

 

Tanpa rasa lelah guru mendatangi rumah-rumah siswa untuk saling belajar mengajar bersama sama. Memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas sudah menjadi tugas seorang. Jadi, bagaimanapun seorang guru harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang pengajar dan pendidik.

 

Bukan hanya itu, bahkan seorang guru rela mengantarkan beberapa lembar soal ujian yang seharusnya siswa lakukan di sekolah dan sekarang harus dikerjakan di dalam rumah dengan pengawasan orangtua siswa masing-masing. Seperti, soal ujian tengah semester, dan lain sebagainya.

 

Semua hal itu dilakukan oleh seorang guru dengan ikhlas, karena disini guru-guru yakin bahwa apa yang mereka lakukan merupakan upaya dari ikhtiar mereka untuk menjadikan anak didik mereka menjadi anak didik yang mempunyai pengetahuan luas dan tidak ketinggalan materi meski harus menjalani pembelajaran secara jarak jauh. Seorang guru sadar bahwa siswanya adalah tanggung jawabnya. Jadi, apapun yang terjadi seorang guru harus tanggung jawab akan tingkat pemahaman peserta didiknya.

 

Jika dilihat dari beberapa hal tersebut, guru merupakan seseorang yang sangat mulia. Tanpa rasa lelah, tanpa merasa terbebani ia lakukan semata-mata untuk peserta didiknya. Seorang guru tidak ingin jika nantinya tidak bisa mencetak generasi yang unggul. Maka dari itu, apapun akan guru lakukan demi meningkatkan tingkat pemahaman dan kemampuan peserta didiknya.

 

 

Program Baru, Berikan Kemudahan Bagi Siswa

Foto ilustrasi smanteb.id/fikry/foto

SMANTEB.ID – SMAN 1 Tebing-Tinggi (SMANTEB) buat sebuah program terobosan “Guru Piket Di Sekolah”, guna memfasilitasi warga sekolah di masa pandemi Covid-19 saat ini yang sedang menerpa Kabupaten Balangan.

Memang sejak bulan Maret lalu sekolah-sekolah yang ada di Indonesia diliburkan, guna menghindari terciptanya klaster Covid-19 di sekolah. Balangan sendiri tercatat sudah beberapa kali menjadi zona merah.

Sekarang ini untuk data Covid-19 sudah mulai menurun, sehingga program ini dibuat menimbang banyak masukan keluhan para siswa, yang telah bosan belajar secara online, dan mereka ingin belajar seperti biasanya.

Eko prsyitno Kepala SMAN 1 Tebing-Tinggi

Dijelaskan oleh Kepala SMANTEB Eko Prayitno bahwa, program ini bertujuan untuk memfasilitasi warga sekolah, khususnya siswa.

“Jadi jika siswa perlu dengan guru atau yang lain sebagainya yang berhubungan dengan sekolah, siswa bisa datang ke sekolah sesuai keperluan mereka,”

Di dalam program ini, selain hari libur para guru selalu standby di sekolah, menunggu para siswa yang datang untuk sekedar konsultasi, menanyakan soal pelajaran, ataupun mengumpulkan tugas ke guru yang bersangkutan.

Diharapkan dengan program ini, para siswa dapat terbantu, dan kembali bersemangat untuk belajar walaupun di rumah, serta semoga pandemi ini cepat berlalu.

“Untuk para siswa meskipun pandemi ini, sudah mulai menurun di daerah kita, tetapi kita semua harus taati aturan dari pemerintah, sesuai protokol kesehatan, selalu pakai masker dan jaga jarak aman,” imbaunya.

Anita Fitriani Guru Sejarah SMAN 1 Tebing-Tinggi

Sementara itu, katakan oleh Anita Fitriani salah seorang Guru SMANTEB yang menjalankan piket bahwa, program ini sangat membantu siswa dalam soal pembelajaran.

“Program ini sangat membantu siswa, terlebih bagi siswa yang tidak bisa belajar online, mereka dapat mengambil tugas ke sekolah tanpa harus menunggu dua minggu sekali,” tuturnya.

Selain itu, kami sebagai guru dapat mempelajari perkembangan siswa secara langsung, baik belajarnya selama ini, perilakunya serta kami juga dapat memberikan masukan kepada mereka.